Minggu, 13 November 2011

Budaya Pancasila di Era Informatika, Bukan Gunjingan Antar Generasi




Jika berbicara tentang pancasila mengingatkan saya tentang burung langka yang dilindungi oleh pemerintah Indoesia yang sering berterbangan di Asia dan Australia yang selalu terngiang saat pelajaran PPKN sedang berlangsung, saat itu saya masih SD. Saya sangat suka lambang pancasila, saya berpandangan itu sangat keren burung garuda berwarna kuning emas mengepakkan sayapnya dengan gagah menoleh ke kanan. Dalam tubuhnya mengemas kelima dasar dari Pancasila.  Di tengah tameng yang bermakna benteng ketahanan filosofis, terbentang garis tebal yang bermakna garis khatulistiwa, yang merupakan lambang geografis lokasi Indonesia.  Kedua kakinya yang kokoh kekar mencengkeram kuat semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti
“Berbeda-beda, Namun Tetap Satu” . Ada lima lambang di tameng tersebut, diantaranya Bintang emas, pohon beringin, rantai, padi dan kapas, serta kepala kerbau, yang masing-masing lambang memiliki makna tersendiri. Keberhasilan bangsa Indonesia dalam meraih cita-citanya menjadi negara yang merdeka bersatu dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945, tertera lengkap dalam lambang garuda.  17 helai bulu pada sayapnya yang membentang gagah melambangkan tanggal 17 hari kemerdekaan Indonesia, 8 helai bulu pada ekornya melambangkan bulan Agustus, dan ke-45 helai bulu pada lehernya melambangkan tahun 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian lambang burung garuda itu semakin gagah mengemas lengkap empat arti visual sekaligus, yaitu makna filosofis, geografis, sosiologis, dan historis.
Dewasa ini banyak berita-berita hangat tentang pro-kontra tentang pancasila di Indonesia. Banyak orang menilai globalisasi telah mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi moral pancasila. Telah banyak pelanggaran moral pancasila di Indonesia, contohnya munculnya aliran-aliran (yang menurut saya tidak jelas) dalam agama-agama tertentu, pemerintahan tidak menjunjung tinggi keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia yang dibuktikan dengan adanya korupsi dimana-mana, Indonesia yang semakin lama saya pandang tidak bersatu akibat pemikiran orang-orang tertentu yang ingin lepas dari negara kesatuan republik Indonesia  , generasi muda akan mempunyai rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone, dan masih banyak lagi. Apakah itu dampak dari Globalisasi di Era Informatika ini? Kalau saya menjawab tidak, meski pada prakteknya banyak oknum yang menyalahgunakan globalisasi dan kemajuan dibidang informatika dunia seperti kasus yang sempat hangat tentang okum yang tertangkap basah oleh wartawan karena penyalahgunaan teknologi yang dilakukannya saat sedang menjalankan tugas Negara, namun menurut saya pada hakekatnya penyalahgunaan itu ada pada kesalahan personalitas, hati nurani dan niat daripada oknum tersebut.Sebagai konsekuensi logis dari proses menuju global village mempunyai dampak negatif bagi pancasila yaitu mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Yang sering diucapkan seorang teman jika berbicara tentang pancasila: "bahkan mereka yang selalu mengaku sebagai pancasilais nomor satu malah mencampakkan pancasila sebagai ongokan sampah sejarah belaka", yang menurut saya ada benarnya. Karena ideologi terbuka adalah milik seluruh rakyat dan masyarakat akan menemukan dirinya, kepribadiannya di dalam ideologi tersebut.Ideologi terbuka tidak diciptakan oleh negara melainkan digali dan ditemukan dalam masyarakat itu sendiri.
Menurut saya, globalisasi adalah suatu hal yang luar biasa dalam memulai Era baru. Dimana dengan kemajuan teknologinya, terutama teknologi informatika, membuat kita dapat saling berkomunikasi dengan tulisan, suara, bahkan dengan melihat langsung lawan bicara kita menggunakan webcam. Sungguh sesuatu hal yang luar biasa dan penting sekali, karena sangat membantu kita dalam bertukar informasi. Bayangkan, pada saat kita duduk dirumah (Indonesia) hanya dengan modal handphone kita sudah bisa bertatap muka dengan orang di Negara lain. Dan hal itu tidak akan mempengaruhi moral pancasila yang tertanam pada generasi muda jika penggunaannya tepat. Contoh saja dari pengalaman pribadi saya. Saya punya adik 3, salah satunya berumur 4 tahun, yang sekarang duduk di bangku TK. Dia memang saya biasakan akrab dengan internet, dan sering saya ajak menonton saya bermain game online dulu sewaktu saya masihduduk di bangku SMA. Dan saat ini ia sudah mahir menggunakan browser internet. Walau belum bisa menyalakan PC dan belum paham untuk mengkoneksikan internet, setidaknya ia sudah bisa membuka browser dan mengetikan kata kunci untuk mencari segala hal (biasanya gambar) yang ia sukai disitu. Dan yang membuat saya begitu kaget ketika ia bertanya tentang lambang pancasila, saat mendapat tugas untuk membawa gambar burung. Lalu saya menjelaskan padanya tentang pancasila, meski saya yakin dia belum mengerti sepenuhnya tentang apa itu pancasila, lalu ia beranjak dan menceritakannya pada teman-temannya. Kemajuan teknologi informatika sekarang banyak dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah bertaraf internasional yang menggunakan PC/laptop dan internet dalam metode pembelajaran maupun dalam pemberian tugas-tugasnya seperti yang dialami oleh adik saya yang duduk di bangku smp sering menggunakan internet dalam penyusunan tugas-tugasnya, termasuk tugas-tugas di mata pelajaran Kewarganegaraan, setidaknya itu merupakan suatu bukti adanya pembudayaan pancasila pada generasi muda di Era Informatika. Pengalaman saya diatas hanya segelintir contoh positif pengaruh perkembangan informatika di Era Globalisasi.
Sekarang memang zaman yang serba praktis, namun belum tentu itu merupakan suatu kemunduran moral. Sedih rasanya jika mendengar perdebatan saling tentang warisan nenek moyang yang seharusnya kita jaga tersebut. Tidak yang tua, tidak yang muda, saling menyalahkan. Banyak kaum tua yang mengganggap generasi muda di era informatika seperti saat ini lebih cenderung mengikuti sesuatu yang sedang trend, sehingga melupakan moral pancasila. Sebaliknya generasi muda menganggap pancasila itu kuno. Sejatinya Pancasila itu bukan untuk dipergunjingkan, yang seakan-akan hanya di angan-angankan tanpa ada realisasi pengamalannya. Yang terpenting adalah pemanfaatan positif dan keyakinan dalam hati yang disertai dengan pengamalan dalam tingkah laku. Budaya boleh berubah, tetapi masih menjunjung tinggi semangat pancasila. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Mari kita semua, semua generasi sambut gobal village, borderless, dunia tanpa batas dengan kemajuan teknologi informatikanya dengan tetap menjunjung tinggi moral pancasila!

9 komentar:

  1. Kemajuan IPTEK di jaman sekarang seharusnya semakin mampu mengeksiskan Pancasila, baik di mata Internasional maupun regional.

    dengan kecanggihan IPTEK, pengawasan/pemantauan kondisi disetiap sudut negara kita bisa semakin mudah,^^

    BalasHapus
  2. pengawasan/pemantauan yang seperti apa yg dimaksud Din?

    BalasHapus
  3. => Maksudnya pengawasan terpusat gitu ya Din? wah saran yang bagus itu ^_^
    => Makasih Dona...

    BalasHapus
  4. kalo IPTEK makin canggih, pulau2 di Indo makin mudah terhubung sama pusat.
    nah, otomatis udah seharusnya pemerintah bisa "menjaga" keutuhan sila2 pancasila. jdi dengan pemerintah ngerti cepet kondisi negaranya
    pemerintah juga jadi cepet ambil tindakan
    sebelum pelanggaran2 sila tadi itu makin merajalela.
    Misal kalo ada agama / sekte baru yang "nyleneh" muncul di suatu daerah, rakyat daerah tersebut bisa langsung melaporkan k pemerintah untuk minta perlindungan atau pengawasan.
    kalo ada penggunaan unsur SARA, atau pelanggaran HAM
    bisa langsung diketahui orang banyak buat mencegah kejadian tersebut berlanjut. kira2 begitulah. dengan kecanggihan IPTEK, Pancasila bisa makin terjaga keutuhannya, tentu saja kalau Pemerintah juga secara aktif BISA memanfaatkannya dengan bijak. hehe

    BalasHapus